Kumpulan puisi 4 bait bertema lingkungan sekitar

Saturday, September 3rd 2016. | Puisi
Gambar puisi tema lingkungan

Gambar puisi tema lingkungan

Puisi tentang lingkungan hidup – Membuat puisi tema lingkungan merupakan keharusan karena melestarikan alam sekitar sudah menjadi kewajiban kita sebagai warga negara yang baik terutama akan hubungannya dengan alam semesta. Manusia selalu memiliki kesalahan dalam memperlakukan harta benda yang dimilikinya, tak jarang mereka juga tidak membiarkan pesona alam lestari.

Dalam kesempatan kali ini saya akan memberikan beberapa contoh puisi lingkungan yang dapat menjadi inspirasi ataupun referensi untuk anda agar lebih lebih baik dalam memberikan rasa peduli terhadap kelangsungan alam yang kadang tidak kita sadari.

Contoh puisi-puisi tentang lingkungan

Kepunahan Hewan

Masih menjadi harapan doa diantara doa
Tentang alam yang indah dengan jutaan penghuninya
Yang lama kian menghilang
Punah tercekik kerusakan alam

Indonesia sang nirwana bumi
Tempat hewan dan tumbuhan bercengkrama dalam kerindangan
Kini mulai mengeluh dengan sejuta siksaan
Saat rusaknya alam karena keserakahan

Hutan diterjang api
Pohong ditebang untuk memenuhi dahaga keserakahan
Sang Harimau mengaum
Sang monyet berlari
Sang burung beterbangan ketakutan
Sang kelinci tersesat
Dan akhirnya,
Semua mati

Berapa banyak kah lagi hewan yang harus punah?
Dimusnahkan kebejatan manusia yang penuh ketamakan

Berapa nyawa lagi yang harus dipersembahkan demi iblis uang
hanya untuk mencari kekayaan

Lestarikan alamku
Agar lestari hewan – hewannya

Lestarikan nusantaraku
agar tetap hijau dengan tetumbuhan

Lestarikan bumi pertiwiku
Agar terus permai tanah surga ku

TANAHKU TANAH SYURGA

Nun jauh disana,
Syurga berdiri megah menanti para penghuninya
Di sini, potongan syurga telah menancap di punggung bumi
Menampilkan sejuta pesona alam yang tak tertandingkan

Nusantara, sang tanah surga
Lukisan indah ciptaan Tuhan
Seni maha indah yang tergores di kanvas kehidupan
Pertiwiku yang indah, potongan tanah nirwana

Di sana pantai menyajikan keindahanya bersama debur ombak
Disandingkan dengan hamparan pasir
Di sana, pohon kelapa berbaris melambai lambai
Menyambut nelayan membawa berkah alam

Disana Gunung menyajikan keindahan hijaunya alam
Semilir angin nan sejuk bertiup semilir
Pohon beriringan berbaris menampilkan kerindangan
Di sini sejuta hewan hidup dalam kedamaian
Jutaan tanaman menancap diatas bumi

Disana ada lautan yang menyajikan alam bawah permukaan air
Ikan – ikan nan indah berenang dengna bebas
Kumpulan terumbu karang berdiri laksana gunung gunung
Tanaman laut bergoyang goyang mengikuti irama aliran air

Indahnya negeriku
Seindah nirwana

Kan aku jaga
Agar anak cucuku tahu

Kita telah lahir di tanah syurga

Kerusakan Alam

Bumi makin gersang
Ia kian rapuh diterpa bencana
Banjir menerjang semua
Kekeringan menghempaskan kehijauan

Tangan – tangan laknat telah berbuat kerusakan
Sampah kau buang sembarangan
Sungai kian keruh,
Jangan heran, Jika Tuhan mengirimkan pesan melalui
BANJIR

Hutan – hutan yang kau kikis
Pohon – pohon tumbang karena mesin
Simpanan air kian menyusut
Jangan heran, Jika Tuhan mengirimkan pesan lewat
KEKERINGAN

Kau sendiri yang merusak tanah surgamu
Jangan heran jika tanahmu tak lagi subur
Jangan heran jika lautmu tak lagi indah
Jangan heran jika musim pun tak tentu arah

Kaulah yang merusaknya
Dengan tangan keserakahanmu
Telah kau jadikan alam sebagai pemuas nafsu
Dan kau lupakan anak cucumu
Mereka, keturunan kita
Pun berhak mendapatkan alamnya
Seperti kita mendapatkan alam kita

ALAM DESAKU

Kulihat sawah membentang
warna hijau bagai permata alam
kucoba telusuri jalan
akankah tetap begitu

Kuingin tetap begini
terlihat apa adanya
kuingin tetap begitu
terlihat kenyataanya

Mentari mulai tenggelam
dan..akupun teteap disini
menikmati alam yang ada
anugerah dari yang kuasa

Oh..alam desaku
…aman dan damai
Oh…. alam desaku
….lestarikanlah

KICAU BURUNG

Kicau burung yang menyusup lewat
sela daun mangga bersama hangatnya mentari pagi
adalah sebuah misteri
pada siapa rindu kubagi

Kicau burung yang menggetarkan ibaku
daun terbang entah kemana
adalah sebuah duka
yang tertinggal dari kibasan
sayap lukanya

DI TEPI LAUT

Diujung musim yang bertiup angin
bagai denguas gurun pasir
cahaya melompat dalam lautan salju
diseretnya langkah dimalam itu
dalam putih waktu
kutawarkan pada-Mu
jenuh semesta ini kupenuhi isi
dihidupmu nasib dunia
bentangkan kedua tangan mu
pohon-pohon kering di tepi laut padang pasir
menyanyi dalam gaib malam
kepada seluruh dunia
yang menelankan dipucuk pantai
kuburlah hidup tanpa kesadaran

BERITA ALAM

Halilintar menggelegar, daun-daun berguguran
Langit biru menghilang
Burung terbang tinggalkan sarang
Rintik hujan berjatuhan, payung-payung dikenakan
Pohon tumbang tercabut dari akarnya
Awan hitam semakin mengembang
Kulangkahkan kakiku menuju cakrawala
Gapai harapan mimpi indah
Kupetik senar gitarku nyanyikan lagu tra la la
Merah putih sudah kusam warnanya
Burung garuda entah terbang kemana
Pancasila tak lagi bermakna
Indonesiaku tertutup wajahnya
Badai datanglah hentak kegersangan
Hujan air turunlah sirami kekeringan
Mentari terbitlah ubah kesuraman alam ini
Nergri ini….

HAMPARAN MUTIARA

Sepi hening dikeramaian
menatap hari tanpa dedaunan
tak satupun serpan daun menerawang
menutupi diri dalam ketenangan
berdiri sepi menatap rembulan
ditemani sang kekasih malam
hamparan mutiara bersinar terang
tanpa bunyi rembulan malam
diri runtuh benuh keikhlasan
menuntun diir mengharap penerangan
wujut nyata tanpa bayangan
mensyukuri indahnya angin
menitih air dari rembulan
melapas angan angan menunggu ke ikhlasan
agar datang ketenangan

LEMBAYUNG JINGGA

Lembayung jingga masih setia
diatas bukit yang sama
beranjak perlahan melepas senja
menunggu sesaat sambut kejora

Sedikt engkau terlihat resah
saat pekat hendak menjelma
seakan kau terluka
saksikan kiprah para manusia

Raut wajahmu tak seindah dulu
selalu ceria dan tak pernah sendu
kini kau simpan dendam menggebu
pada kami yang merasa tak tahu

Kau tatap kami dengan sinarmu yang tajam
bagai ceria yang siap menghujam
tanpa merasa ada batas yang menghadang
karena kami yang selalu jauh pada Sang Khalam

KEMARAU DIAM

Kemarau diam di jiwaku. Serangkai
bayang-bayang randu tumbang, berisi adzan
dengan pilu. Pahamilah bagaimana mataku rabun,
jumpalitan, begitu cemburu. Aku susuri ketiakmu,
tapi rupanya jalanan makin malam,
meski aku telah tinggalkan dirimu. Sepanjang keriuhan kelu,
mayatku terpencil. Ingus para pejalan bergayutan
di jenggotku

Seluruh kesumat dan derita memacu
pengetahuanku. Arwahku memanggil namamu,
sementara panorama lebur, selangkah demi selangkah
memudar, menjelajahi batu. Di dasar pijaran kabut,
aku adalah jenazah bagi setiap hasrat dan kesintalanmu.
Kegembiraanku mengintip tato kupu-kupu di pusaramu.
Malam makin dingin, mendzikirkan diamku.

Penampakan-penampakan gaib, samun, mencair
hitam bersama salju.
Karena bunga-bunga gugur adalah sihir
yang menghidupkan bangkai-bangkai, juga sajak-sajakku.
Demikianlah dingin meledak bersama shalatku.
Pohon-pohon yang rabun dalam gerimis kabur
bersama gemuruh. Aku wudhlu matahari
meniupkan terompet seribu tahun
di hari-hari pagi talkin seratus gerhana menafasiku.
Dunia kelak hanya kelam yang mempasakkan
gaung-gaung. Halimun menghirup mayat-mayat
rumput. Aku kini pelangi. Peneguh riwayat
ketelanjangan
letusan-letusan peluru.

LAGU OMBAK

Pantai yang perkasa adalah kekasihku
Dan aku adalah kekasihnya
Akhirnya kami dipertautkan oleh cinta
Namun kemudian bulan menjarakkan aku darinya
Kupergi padanya dengan cepat lalu berpisah
dengan berat hati.

Membisikan selamat tinggal berulang kali.
Aku segera bergerak diam-diam
dari balik kebiruan cakrawala
untuk mengayunkan sinar keprakan buihku
kepangkuan keemasan pasir

Dan kami berpadu dalam adunan terindah
Aku lepaskan kehausannya
Dan nafasku memenuhi segenap relung hatinya
dia melembutkan suaraku dan
mereda gelora didadaku.

Kala fajar tiba, kuucapkan prinsip cinta di telinganya
dan dia memelukku penuh damba
diteriksiang kunyanyikan dia lagu harapan
Diiringi kucupan-kucupan kasih sayang
Gerakku pantas diwarnai kebimbangan
Sedangkan dia tetap sabar dan tenang.

Dadanya yang bidang meneduhkan kegelisahanku
Kala air pasang kami saling memeluk
Kala surut aku berlutut menjamah kakinya
Memanjatkan doa seribu sayang
Aku selalu berjaga sendiri

Menyusut kekuatanku
tetapi aku pemuja cinta
dan kebenaran cinta itu sendiri perkasa
mungkin kelelahan akan menimpaku
Namun tiada aku bakal binasa.

TAMAN

Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki
Bagi kita bukan halangan
Karena
dalam taman punya berdua
kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang
kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia

SENJA DI PELABUHAN KECIL

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
diantara gudang, rumah tua, ada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

Artikel di cari :