Puisi jeritan anak yatim piatu yang mengharukan

Caption untuk anak yatim piatu

Caption untuk anak yatim piatu

Puisi rintihan yatim piatu – Siapa sih yang tidak pengen memiliki keluarga yang utuh? Utuh yang di maksud adalah keluarga yang lengkap ada bapak dan ibu. Pastinya, semua orang di dunia ini menginginkannya berbeda dengan anak yatim piatu yang tidak memiliki siapa siapa di dunia ini. Yatim piatu merupakan istilah bagi mereka yang tidak memiliki bapak dan ibu. Dalam bahasa arab yatim sendiri mempunyai arti tidak memiliki bapak, sedangkan untuk piatu artinya tidak memiliki ibu lagi. Bersyukurlah kita yang di lahirkan memiliki ayah dan ibu yang lengkap, yang senantiasa merawat dan menjaga kita.

Nah, bagi anda yang yatim piatu tak perlu bersedih karena dunia ini hanya sementara kita harus selalu melangkah kedepan untuk menjalani kehidupan tanpa hadirnya orangtua di kehidupan kita. Untuk itu kita harus bangkit dan sukses buktikan kepada dunia kalau kita bisa hidup sendiri buat bangga kedua orang tua kita di alam sana. Satu lagi yang harus anda lakukan sebelum melangkah dalam segala hal selalu minta restu dan doa kepada orangtua kita di sana. Tak perlu panjang lebar lagi, dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa contoh puisi renungan anak yatim piatu yang menyentuh hati yang bisa anda jadikan untuk motivasi. Seperti berikut :

Kumpulan puisi tentang anak yatim piatu

Puisi 1

Bapak
Aku masih teringat dan terkenang dengan nasehatmu
Bapak

Aku masih terngiang tawa candamu
Emak…
Aku masih mengenang kasih sayangmu
Emak
Aku selalu rindu bimbinganmu
Ingin selalu di sisimu selalu

Tapi apa daya
Hanya bersandang do’a dan do’a
Bapak…. emak…
Sauatu saat nanti aku ingin bersamamu
Tertawa, canda, bahagia , bersama seperti dulu
Tapi entak kapan semua jadi kenyataan
Hanya bisa berharap
Semoga kita bisa berkumpul kelak
Kelak di akherat sana
Ku hanya bisa pasrah dan ikhlas
Kepada sang Maha Pencipta … Amin….

Puisi 2

Nafasku tersekat dalam tangisan
duhai, mengapa nafas tak lepas bersama jeritan,
sesudahmu tiada lagi kebaikan dalam kehidupan.
Aku menangis karena aku takut hidupku akan kepanjangan.
Kala rinduku memuncak,
Kejenguk pusaramu dengan tangisan
Aku menjerit meronta tanpa mendapatkan jawaban,
Duhai yang tinggal di bawah tumpukan debu,
Tangisan memelukku;

Kenangan padamu melupakan daku dari
Segala musibah yang lain
Jika engaku menghilang dari mataku ke dalam tanah
engkau tidak hilang dari hatiku yang pedih.

Berkurang sabarku bertambah dukaku
Setelah kehilangan Khatamu-l-Anbiya’,
Duhai mataku, cucurkan air mata sederas-derasnya,
Jangan kau tahan bahkan linangan darah.

Ya Rasulullah, wahai kekasih Tuhan
Pelindung anak yatim dan dhuafa
Setelah mengucur air mata lagit
Bebukitan, hutan, dan burung
Dan seluruh bumi menangis.

Duhai junjunganku,
Untukmu menangis tiang-tiang Ka’bah,
Bukit-bukit dan lembah mekah
Telah menangisimu mihrab
Tempat belajar Al-Qur’an di kala pagi dan senja.

Telah menangisimu islam,
Sehingga islam kini terasing di tengah manusia;
Sekiranya kau lihat mimbar yang pernah kau duduki
Akan kau lihat kegelapan setelah cahaya.

Puisi 3

Disini ku sendiri menepi mimpi yang ku angankan sendiri
Tak ada seorangpun yang kan berjuang untukku
Angin mendesir memilukan hati yang sedih
Sedih karena aku sendiri
Sedih karena tak ada kerjaan
Sedih karena tak punya uang

Bulan masih tenggelam di tutup awan yang kelam
Tak ada penerang di jalan yang akan terasa panjang sampai tujuan

Gerak langkah yang maju kadang mundur membuatku takut
Sedih dan ketakutan dari keberpasrahan yang sering ada dalam pikiran
Apa mungkin tak ada jalan untuk keluar dari keterpurukan ini?

Dimanakah petunjuk jalan yang selalu ku harapkan dari malam-malam yang kulalui dengan sujud dan ayat ayat al quran.
Kadang aku tak lagi berdzikir dan berpasrah saja pada jalan tuhan yang tak ku tahu.

Sujudku ku tinggalkan di alarm yang sengaja ku matikan
Ragu dan tak tahu
Semangat yang kubangun sendiri akhirnya meleleh tanpa hasil
Aku adalah seorang budak yang tak tahu arah
Jalan berliku tak henti-henti
Malu pada orang dan anak-anak yang memberi uang
Tubuh ini yang terasa berat karena tak ada tindakan yang mengurangi beban yang semakin berat dalam tubuhku
Tak percaya dan selalu melampiaskan kekesalan ini pada makanan yang ada di depan mata walau sampai mati rasa.

Gemuruh langit yang malam membawaku,
Syukur yang jarang aku lakukan untukmu Tuhan
Hanya permintaan yang selalu ku katakan seperi anak yatim yang meminta ibu dan bapak mereka kembali ke dalam kehidupan yang perih

Puisi 4

Hidup seorang diri……
Mengarungi dunia seorang diri
Begitu penuh dengan bermacam-macam manusia
Selalu berfikir bagaimana hari-hari yang akan dilewati

Menunggu siapa yang dapat membantu
Seribu kreatifitas dilakukan untuk menjalani hidup
Terkadang berfikir apakah nanti malam dapat makan
Bagaimana besok jadi orang sukses

Kehilangan seorang ayah…….
Kehilangan seorang ibu……….
Membuat seorang yatim piatu menjadi seorang yang tegar
Untuk menjalani hidupnya hari demi hari yang berganti dan berlalu
Kehilangan telah membuat yatim piatu menjadi seorang yang gagah

Puisi 5

Aku yg tumbuh menghabiskan peluh..
bersama nyanyian air mata..
senyum, canda ataukah tawa..
tak pernah kurasa..

hanyalah ratapan rindu bayangan..
memutar waktu menuju kenangan..
aku sang pewaris nama..
nama yg tergores di batu nisan..
aku rindu dirimu..
ayah dan ibu..
hadirlah dalam setiap lamunan..
agar aku tahu seperti apa kusut wajahmu..
ayah ibu..
peluklah aku..

walau pelukanmu hanyalah seberkas debu..
perih serasa hidup ini..
ketika kulihat mereka bahagia bersama orang tuanya..
sedang diri ini..
bahagia hanyalah harapan dan sebatas impian sia-sia..
dalam perjalanan panjan diruang sepi..
kesendirian ini sangat membosankan..
bagian hidup berjudul siang dan malam..
hanya ditemani mentari dan rembulan..
tak kenal sekolah, main, dan kasih sayang.
ketika ada seseorang bertanya kepadaku: kok sendirian dijalan, bapak ibumu dimana.
lalu ku jawab : bapak ibuku di balik bintang.

Puisi jeritan anak yatim piatu yang mengharukan