Contoh puisi bertemakan suasana kampus tercinta

Tuesday, September 6th 2016. | Puisi
Apresiasi puisi kampus

Apresiasi puisi kampus

Puisi tentang lingkungan kampus – Mendengar kata kampus pastinya sudah tidak asing lagi bagi kalian yang sedang menjalani kehidupan menjadi mahasiswa atau mahasiswi. Kampus sendiri merupakan lingkungan untuk proses belajar-mengajar saja. Tetapi kampus itu meliputi seluruh bangunan yang ada di kompleks perguruan tinggi tersebut. Seperti bangunan kantor administrasi, gedung kemahasiswaan, perpustakaan, Masjid, bahkan kantin pun juga tergolong kampus, jika masih berada dalam kompleks kampus tersebut.

Jika anda lulus nanti pastinya akan merasakan kangen dengan suasa kampus, mungkin karena banyak kenangan yang tertinggal di sana. Dalam kesempatan kali ini kami akan memberikan puisi tentang kampus, semoga bisa menjadi referensi anda yang merindukan kampus di mana dulu anda pernah belajar di sana. Selengkapnya :

UNTUK KAMPUSKU

Angin berhembus menghampiri sesuatu
Dimana canda tawa saat siang Dimana sunyi sepi saat malam
Tiada yang dapat menggantikan itu setiap harinya kecuali tinta merah

Antara siang dan malam
Antara kemalasan dan kerja keras
Semua berkumpul menjadi satu

Saat indah menatap hijaunya kampus
Saat sedih meratapi tangan-tangan jahil
Saat berduka meliputi hari-hari Saat sukacita mendapatkannya kembali

Itulah Kampusku
Menjadi satu kesatuan yang tak terlupakan oleh apapun
Memori indah dan suram tercermin di sini
Kampus Orange menjadi kebanggaan kita semua

Kampusku tercinta

hari-hari kulewati di sana
dalam menuntut ilmu
tak terhitung hari aku masih saja di sini

kampusku selalu setia menemani
Dikampus ini berbagai pengalaman kurasakan
tantangan akan selalu datang menghadang

Namun ku tetap hadapi
demi kesuksesan yang ku inginkan

KERASNYA HIDUP ANAK KAMPUS

Waktu kian berputar pada porosnya
Jalan semakin sempit di penuhi semak
berduri hidup semakin lama semakin menyekik
oprasional kuliah semakin menjadi

Datang dan pergi
hari yang selalu berganti
kisah ini kisah nyata hidupku
dari Desa ke Kota hendak bertujuan
mencapai cita cita

Setahun lamanya aku merantau
berminggu minggu lamanya aku pulang dan pergi
kucari sebutir beras tuk ku kumpulkan demi hari esok
berharap esok kan bisa ku gunakan dengan baik

Suasan kota kian memanas
susana rumah kian menyekik hingga senyum tak
tampak lagi pada ibu tercinta
karna ku slalu meminta n meminta
Oprasionalku untuk hidup di kota

kuharap semua ini kan berbuah manis dan
kan membawaku ke hidup yang lebih baik lagi

KAMPUS HIJAU

Suasana hijau nan memanjakan mata
Menyambut kedatangan kaum intelektual
Angin semilir menenangkan jiwa
Membuat gairah menuntut ilmu terasa membara
Daun – daun melambai menentramkan hati
Menyemangati diri meningkatkan kualitas

Suasana nan permai
Meningkatkan daya intelektualitas
Proses pengajaran dikelilingi udara non polutan
Semakin menyegarkan pikiran
Ajang diskusi ditemani pepohonan rindang
Memunculkan berbagai gagasan cemerlang

Alangkah indahnya kampus hijau
Membuat kenyamanan perkuliahan
Alangkah eloknya kampus hijau
Merasa hati tak mau beranjak pulang

PERJUANGAN ANAK KAMPUS

Dalam dekapan antara hidup dan mati
Badan terbujur berselimut sepi
Kehidupan Subuh begitu sunyi
Hanya suara jangkrik yang menemani

Dengan kerasnya musik jam berbunyi
Sholat Subuh telah menanti
Saatnya untuk bangun pagi
Mempersiapkan diri untuk pergi
Pergi kekampus yang aku cintai

Meski kedua mata dalam keadaan mengantuk
Pikiran kosong di balut suntuk
Tapi aku tak akan tertunduk
Aku tak akan pernah takluk
Karena tak mau masa depan yang buruk

Dengan bahagia kaki dipacu kencang
Semangat juang telah membuberang
Laksana hastrat terbang dibawah kunang-kunang
Demi menatap masa depan yang terang

Dalam ruang kampus ku mulai belajar
Sebatang pena sehelai kertas menjadi tikar
Tempat berlabuhnya ilmu yang tak pernah terdengar
Walau terkadang dicaci maki perut yang lapar
Tapi ku tetap terus tegar

Walau hidup seorang dalam satu sangkar
Namun semangat tak pernah pudar
Hingga jiwa ini benar tekapar

Taman Kampus

Rumput-rumput mungil
dibawah pijakanku menjerit luka
aku tak meyisakan secuil
celah untuk ia bernafas
Aku benar-benar membunuhnya!!!

Taman kampus
tempat aku, kamu dan kita berteduh
perlahan tampak gersang
satu-persatu hamparan bunga idealisme tercabut
Akar tunggangnya terkikis air mata
Burung-burung yang setiap pagi
bertengger pun menjerit
Mereka tak bisa lagi menebar kicaunya
Karena kini taman kampus telah suram

Artikel di cari :