Kumpulan cerita humor mukidi di aplikasi whatsApp

Tuesday, August 30th 2016. | Ucapan
Foto mukidi asli

Foto mukidi asli

Cerita kocak mukidi – Dalam beberapa hari yang lalu sempat menjadi tranding topic di penguna aplikasi whatsapp tentang nama mukidi, mungkin anda sudah pernah tahu atau bahkan sudah tidak asing lagi dengan tokoh mukidi. Ya, nama Mukidi belakangan ini sedang ‘naik daun’ dan menjadi viral lewat WA setelah beberapa guyonan atau joke yang membawa-bawa nama Mukidi.

Tidak jelas mengapa nama Mukidi yang dipakai dalam candaan tersebut. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana awal mulanya hingga nama Mukidi menjadi begitu terkenal dalam dua hari ini. Namun konon, nama Mukidi memang dari dulu menjadi bahan candaan khususnya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mungkin kalau di Jawa Barat nama Mukidi sekelas dengan nama Kabayan.

Tidak hanya bercanda dengan kata-kata lucu yang mencantumkan nama Mukidi saja, namun ada juga yang menyebar foto seseorang dengan nama Mukidi di grup WA.

Berikut cerita kocak mukidi whatsapp

NAIK UNTA

Mukidi lagi melancong ke Arab, seperti orang Indonesia yang lainnya. Dia juga ikut tour naik unta. Tapi unta di Arab tidak seperti unta di Indonesia, ketika Mukidi bilang, “duduk” dan unta langsung duduk.

Namun lain kejadiannya. Unta di Arab, walaupun Mukidi sudah bilang: “Duduk, sit.. sit, jongkok, diuk.”

Sang unta tetap berdiri, dan akibatnya Mukidi tidak bisa naik.

Pawang Unta (PU): “Bilang Assalamualaikum, baru unta duduk.”

Mukidi: “Asalamualaikum” langsung onta duduk, Mukidi naik, unta langsung berdiri lagi.

Mukidi: “Jalan.. jalan..” unta tetap diam. Dipukul pukul punggungnya, unta tetap tidak mau jalan.

PU :”Bilang Bismillah “

Mukidi : “Bismillah”

Onta jalan, Mukidi senang jalan naik unta dengan Pawang Unta berjalan di sampingnya.

Tak lama kemudian Mukidi bertanya, “Pawang. Bagaimana cara nyuruh untanya lari ya?”

PU: “Bilang aja Alhamdulilah”

Mukidi : “Alhamdulilah.” Dan unta pun berlari.

Mukidi senang sekali. Saking senangnya Mukidi bilang lagi “Alhamdulilah.” Dan si unta berlari tambah kencang, dan si Pawang Unta makin ketinggalan.

Ketika Mukidi sudah jauh si Pawang Unta baru ingat, belum memberi tahu caranya onta berhenti. Dari jauh PU berteriak: “Kalo mau berhenti bilang Innalillahi..”

Karena sudah jauh Mukidi tidak mendengar. Dan si unta terus berlari dengan kencang. Sampai akhirnya di kejauhan Mukidi melihat di depan ada jurang yang sangat dalam. Mukidi ketakutan, dan mencoba menghentikan onta: “Stop, stop, stoooop, stooop, oop, oop..!!”

Unta tetap berlari, jurang sudah terpampang di depan mata. “Mati gue!” kata Mukidi. Tahu dia akan jatuh kejurang dan mati.

Dalam kepanikannya dia berteriak: “Innalillahi..!!” sambil memejamkan mata pasrah. Unta mendadak berhenti. Dan ketika Mukidi membuka mata. Dia melihat persis di tepi jurang. Saking senangnya tidak jadi mati, Mukidi berteriak: “Alhamdullilah!”

NO MERCY

Mukidi melihat mbah Kartinem sedang kebingungan di kantor pos.

“Bisa saya bantu nek?”

“Tolong pasangin perangko sama tulis alamatnya nak.”

“Ada lagi nek?”

“Bisa bantuin tulis isi suratnya sekalian?” Mukidi mengangguk. Si mbah lalu mendiktekan surat sampai selesai.

“Cukup nek?”

“Satu lagi nak. Tolong di bawah ditulis: maaf tulisan nenek jelek.”

MASIH SALAH

Wakijan sudah insyaf dan mulai rajin ngaji.

“Mas Wakijan, sholat Subuh ada berapa rakaat?” Ustad ngetes.

“4, ustad!”

“Mas Wakijan pulang dulu deh, cari jawaban yang benar.”

Di tengah jalan Wakijan ketemu Mukidi sahabatnya: “Di, menurut kamu sholat Subuh ada berapa rakaat?”

“Ya 2 lah.”

“Wah payah dah, mendingan lu pulang deh. Belajar lagi.”

“Emang kenapa?”

“Nah gue bilang 4 aja masih salah, apalagi 2?”

BIKIN KONDOM

Di ruang operasi rumah sakit, seorangg dokter bedah melihat Mukidi yang akan dioperasi kelihatan gelisah. Untuk menenangkannya, Mukidi diajak bercanda.

Dokter : “Bapak tau cara membuat sarung tangan karet yang sedang saya pakai ini?”

Mukidi : “Tidak dok…”

Jawab Mukidi sambil memberi isyarat dengan tangannya.

Dokter : “Begini Pak.. Karet mentah direbus sampai meleleh lalu pegawai pabrik rame2 mencelupkan tangan ke dalam cairan karet itu. Setelah itu tangan segera diangkat untuk diangin-anginkan. Tak lama kemudian jadilah sarung tangan seperti ini.”

Mukidi tersenyum mendengar penjelasan sang dokter. Beberapa saat kemudian Mukidi tertawa terpingkal-pingkal. Dokter heran dan bertanya.

Dokter: “Mengapa Anda tertawa seperti itu..?”

Mukidi : “Dengar cerita dokter tadi, saya lalu membayangkan bagaimana cara membuat kondom.”

Dokter: (bengong)

MALU

Suatu hari DH, istri Mukidi bercerita pada suaminya.

Istri : “Mas tadi waktu aku buka BH di depan kaca yang di pinggir jendela …. Eeh nggak tahunya ada cowok ganteng lihatin aku terus……….”

Mukidi : “Terus apa yang kamu lakukan”?

Istri : “Aku malu bangeeeet mas, lalu aku tutupin aja muka aku pake BH”.

Mukidi : “Dasar dodollllll”

Istri : “Bukan dodol, Mas … Tapi aku malu”

BU MARKONAH

Cak Mukidi ke pasar, mau kulineran rujak cingur yang penjualnya ibu-ibu asal Madura bertubuh montok bernama Bu Markonah.

“Buk, rujak satu, berapa?” tanya Cak Mukidi.

“Sepoloh rebu..cak..,” kata Bu Markonah.

Selesai dibungkus, Cak Mukidi bayar dengan uang Rp 20.000. Markonah bilang, “Cak… tangan saya lagi belepotan, kembaliannya ambil sendiri di sini ya,” kata Markonah sambil menunjuk belahan dada atas.

Tanpa ragu-ragu Cak Mukidi merogoh karena orang Madura memang biasa menaruh segala macem di sana pikirnya. “Nggak ada..Bu.” kata Cak Mukidi.

Buk Markonah kasih instruksi, “Lebih dalam lagi, terus, terus. Ke kanan, ke kiri.”
Cak Mukdi: “Nggak ada…Buk.”

“Ya sudah,” kata Buk Markonah.

“Lah terus mana kembalian saya????” tanya Cak Mukidi bingung.

Buk Markonah dengan enteng berkata, “Ongkos rogoh-rogoh sepoloh rebu Cak, sampeyan kira goh-rogoh nang njero kutang ku gratis.”

Mukidi hanya garuk-garuk kepala sambil nyengir mendengar Bu Markonah

EFEK KOSMETIK

Menjelang Idul Fitri Markonah tertarik membeli kosmetik mahal asli Paris bukan beli dari MLM seperti teman-temannya. Kosmetik ajaib yang lebih mahal dari Bobbi Brown, Stila, dan Mac menurut salesgirlnya memberi garansi, pemakainya akan tampil jauh lebih muda dari usianya.

Setelah berjam-jam duduk di depan meja rias, mengoleskan kosmetik ‘ajaib’ nya, dia bertanya kepada Mukidi, sang suami:

“Mas, sejujurnya berapa tahun kira-kira usiaku sekarang?”

Mukidi memandang lekat-lekat istrinya tercinta.

“Kalau dilihat dari kulitmu, usiamu 20 tahun; rambutmu, hm…18 tahun….penampilanmu; 25 tahun…”

“Ah mas Mukidi pasti cuman menggoda,” Markonah tersipu manja.

“Tunggu dulu sayang, saya ambil kalkulator….. saya jumlahkan dulu ya…..”

CAK MUKIDI KE PASAR

Cak Mukidi ke pasar, mau kulineran rujak cingur yang penjualnya ibu-ibu asal Madura bertubuh montok bernama Bu Markonah.

“Buk, rujak satu, berapa?” tanya Cak Mukidi.

“Sepoloh rebu..cak..,” kata Bu Markonah.

Selesai dibungkus, Cak Mukidi bayar dengan uang Rp 20.000. Markonah bilang, “Cak… tangan saya lagi belepotan, kembaliannya ambil sendiri di sini ya,” kata Markonah sambil menunjuk belahan dada atas.

Tanpa ragu-ragu Cak Mukidi merogoh karena orang Madura memang biasa menaruh segala macem di sana pikirnya. “Nggak ada..Bu.” kata Cak Mukidi.

Buk Markonah kasih instruksi, “Lebih dalam lagi, terus, terus. Ke kanan, ke kiri.”
Cak Mukdi: “Nggak ada…Buk.”

“Ya sudah,” kata Buk Markonah.

“Lah terus mana kembalian saya????” tanya Cak Mukidi bingung.

Buk Markonah dengan enteng berkata, “Ongkos rogoh-rogoh sepoloh rebu Cak, sampeyan kira goh-rogoh nang njero kutang ku gratis.”

Mukidi hanya garuk-garuk kepala sambil nyengir mendengar Bu Markonah

Artikel di cari :