Kata-kata mutiara bahasa banjar dan artinya

Wednesday, December 28th 2016. | Kata mutiara
dp bbm bahasa banjar

dp bbm bahasa banjar

Pantun banjar lucu – Indonesia terkenal dengan mempunyai berbagai macam bahasa daerah, salah satunya adalah bahasa banjar. Masyarakat Banjar kaya akan kata bijak. kata bijak yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat Banjar ini adalah warisan turun temurun dari nenek moyang, dengan kata lain “ Adat Pusaka “ yang dipegang oleh orang – orang Banjar. Dan “ Pusaka Urang Bahari “ ini seyogyanyalah kita pertahankan sampai “ kamati “.

Kalau kita lihat dalam arus perkembangan zaman ini, yaitu era “ Globalisasi “, tentu sangat memperihatinkan. Sebab orang – orang Banjar sendiri telah melupakan Pusaka Urang Bahari. Masyarakat Banjar sudah meninggalkan atau tidak pernah tahu lagi khasanah kata bijak Banjar dalam kehidupan sehari – hari.

Kumpulan gambar bbm bahasa banjar

Akal diakali wan pikir dipikirakan = “Niscaya segala persoalan akan terpecahkan bila menggunakan akal pikiran.”

Apik – apik kalu tabarusuk = “Berjalan harus hati – hati supaya jangan tersesat atau salah langkah.”

Asa dikarukut bidawang 40 ikung = “Sakitnya tidak sekira”

Asal Mambawa nang Bujur atawa banar musti salamat diri = “Biar kita bertada dimana saja , apakah di negeri orang , bawa sifat jujur dan baik past5i kita akan selamat.”

Awak randah sangkutan tinggi = “Harus diukur kemampuan kita sendiri sebelum bertindak.”

Babubuang Liur Basi = “Sesuatu pekerjaan yang tidak mendapat hasil.”

Badiri tahantuk baduduk tahantak = “Serba salah, sulit mengambil keputusan karena kedua duanya punya resiko.”

Baguna tahi larut = “Sindiran pada seseorang bahwa lebih berguna orang papa”

Bagung Jadi Raja = “Orang yang mumpung jadi raja memerintah sekehendakhatinya”

Bamamalaman Bapandir Kada Jadi Baras = “Mengobrol sepanjang malam tapi tak ada hasilnya.”

Banyak Muntung kena Bagawi Kada Manuntung = “Jangan banyak berbicara semua pekerjaan akan terbengkalai.”

Biar Ganting Tanapi Jangan Pagat = “Seseuai keperluan, berhemat agar jangan kehabisan.”

Bisa – Bisa Maandak Awak = “Harus pandai – pandai membawa diri bila berada di negeri orang.”

Bujur Pandiam Sakali baucap Luputha pulang = “Sindiran bagi orang yang berpura – pura pintar tetapi bodoh.”

Bulu Batis Gin Karik = “Orang yang tidak pandai menggunakan harta yang banyak akhirnya habis.”

Cancut Naik ka Sampiran = “Orang yang tercela tiba-tiba menduduki suatu jabatan penting.”

Cubik Ramuk Bulanai Pacah = “Orang yang selalu beruntun mendapat musibah”

Dalas Jadi Harang Jadi Habu Manyarah makaam Kada = “Pantang menyerah walau pun akhirnya kalah”

Diandak ka bahu Handak ka Kapala = “Orang yang tak tahu diri. Sudah diberi kedudukan yang baik mau lebih tinggi lagi.”

Diandak ka Bahu handak ka Kapala , di andak ka Kapala pas manjajak = “Sudah diberi kedudukan lebih tinggi dari yang memberi tetapi yang memberi di tekannya.”

Dibari Daging HandakTulang = “Diberi perjaan yang mudah pengen yang lebih berat.”

Ditinggal Manawak,dibawa malinggang = “Orang yang selalu mengganggu ketentraman orang lain.”

Dimamah dahulu Hanyar ditaguk = “Jangan percaya pada orang yang menjanjikan sesuatu, tapi diteliti dahulu buruk baiknya.”

Dimana handak bahira disitu mancari luang = “Suatu pekerjaan harus dipikirkan masak masak, jangan tanpa persiapan yang matang”

Dipandir Mati Abah kada dipandir Mati Uma = “Keadaan serba salah, sulit menentukan pilihan karena keduanya mengandung akibat ( buah simalakama )”

Diulah baju kagubihan diulah salawar kahalusan = “Kiasan kepada orang yang serba tanggung.”

Guyang Tungkat Takana Dahi = “Menyalahkan orang lain justru mengenai dirirnya sendiri ( bumerang ).”

Hadupan manyalak Kada Maigut = “Orang yang hanya pintar menggertak atau mengancam tapi tak terbukti.”

Halus-halus lumbuk parawit = “Walau pun orang itu kecil tapi luar biasa kuatnya.”

Hanyar Tasusur Pinggir Tapih = “Agar kita jangan lupa pada halhal yang kecil yang dapat membahayakan diri kita.”

Hati hati jangan tabarusuk pandir = “Berbicara harus berhati hati sajangan mencelakakan diri sendiri atau orang tersinggung”

Hati – hati Tarumpak Tunggul = “Peringatakan agar berjalan hati – hati jangan ssalah langkah.”

Hundang Bapadah Ratik = “Orang yang suka merendah atau tidak sombong.”

Iya Kandang Iya Babi = “Orang yang diberi kepercayaan tapi berkhianat.”

Imbah Gugur Tatindih Tangga = “Orang mendapat musibah yang beruntun.”

Imbah Satabul Satabul Pulang = “Selesai masalah yang satu muncul lagi masalah baru.”

Jangan Bacakut Papadaan = “Agar jangan terjadi perselisihan sesama satu suku atau keluarga.”

Jangan mahabui mata kawan = “Jangan suka menipu penglihatan teman”

Jangan mahual muntung kawan = “Jangan suka menangkal pembicaraan teman”

Jangan mangucik kamaluan urang = “Senang mencari kesalahan orang,atau yang dipermalukan orang.”

Kadada Buriniknya sama sakali = “Tidak ada lagi khabar beritanya. Diam seribu basa.”

Kada Bakukus amun Kadada Api = “Tak ada kejadian kalau tidak ada penyebabnya.”

Kada kaya Kaluung = “Orang yang angkuh, sombong padahal tidak sesuai dengan keadaan dirinya”

Kada kaya mamamah lumbuk balalu padas = “Setelah berbuat tidak langsung terjadi akibatbya tetapi akan terjadi kemudian.”

Kada titik banyu diganggam = “Orang yang terlalu kikir, tidak mau menderma.”

Kana gatahnya Haja = “Hanya terkena buruknya saja. atau tidak ikut menerima hasilnya sedangkan hasilnya diambil orang.”

Kapala manyuruk buntut mahambat = “Orang yang bermuka dua. Orang yang tidak bisa dipercaya.”

Karas kartas karak imbah dibanyui lamah jua = “Orang yang sifatnya keras namun bila didekati terus menerus akan lemah juga.”

Kaya api dikubui banyu = “Orang yang marah – marah tetapi ada seseorang datang lebih tua, dia akan diam seribu basa.”

Kaya dijilat naga = “Habis tidak bersisa sedikit pun”

Kaya Daun Tarap Gugur Mamparapas = “Pembual, banyak bicara namun tidak ada kerjanya.”

Kaya punai kakanyangan = “Orang yang sudah punya duit atau sudah dikasih sesuatu, akhirnya jadi pemalas.”

Kaya mambuang kalimpanan = “Begitu diobati langsung sembuh”

Kaya cacing Panggal = “Orang yang tidak bisa diam selalu bergerak kesana kemari.”

Kaya diharu hantu baranak = “Hasil pekerjaan yang sia sia atau tak keruan”

Kaya kalayang pagat = “Orang yang sedang berkesusahan, tiada beruntung, tak ada kerjaan, kesana kemari membawa diri, luntang lantung.”

Kaya manjuhut rambut di galapung = “Menyelesaikan persoalan jangan sampai merugikan salah satu pihak.”

Kaya manimbai Batu Ka banyu = “Orang yang diserahi pekerjaan tetapi orang tersebut tidak betanggung jawab dengan meninggalkan pergi tidak memberi tahu.”

Kaya Latupan Cabi = “Perempuan yang suara bicaranya cepat dan nyaring.”

Kaya siput dipais = “Pendiam, tidak mau banyak bicara kalau takut salah.”

Kikicak wadai gayam, mata picak dipatuk hayam = “Orang yang tidak melihat situasi atau keadaan yang sebenarnya.”

Kilat dalam Banyu Gin pinandu = “Orang yang dapat mengetahhui persoalan sebelum dikerjakan.”

Kukulilik di luang satu = “Pekerjaan orang itu tidak mendapat kemajuan.”

Kumpai handak mangalahakan Banua = “Orang yang baru datang ingin mengalahkan penduduk setempat.”

Kula – kula buhaya = “Di hadapan baik padahal di belakang berhianat. Bermuka dua.”

Lambat mambanam kapas = “Pekerjakaan atau masalah pikirkan baik – baik, sebab sengketa mudah terjadi.”

Lapas di muntung harimau kamuntung buhaya = “Orang yang bernasib naas, selalu mengalami kerugian.”

Lindung kucing duduk = “Orang yang kuat makan, rakus. Biasanya ketika ada kenduri atau selamatan.”

Mahadang buah bungur = “Menunggu sesuatu yang tak tentu.”

Muha kaya Panai = “Buruk rupa, jelek.”

Mahitung kasau di bubungan = “Orang yang lama sakit terbaring, tidak berdaya kecuali menatap langit – langit rumah.”

Mambawa jariji sapuluh = “Orang pergi tidak membawa apa – apa. Tidak punya modal.”

Manangguk di banyu karuh = “Hanya mencari keuntungan diri sendiri diwaktu orang sedang berkesusahan.”

Manapak Banyu di apar = “Bumerang. Terkena diri sendiri.”

Manangis kada babanyu mata = “Terlalu sedih tidak ada airmata lagi yang keluar.”

Manapas muha saurang = “Memperlihatkan keburukan sendiri”

Mancaluk padaringan urang = “Mencampuri urusan urang lain biasanya menyangkut dalam keluarga orang.”

Mancari hundayang tadapat suluh = “Rejeki yang tak disangka – sangka.”

Musang bapadah hayam = “Orang jahat berpura pura baik padahal mencelakakan”

Nang manis jangan lakas di taguk = “Ucapan yang manis dari sesorang jangan selalu dipercaya.”

Nang pahit jangan lakas diluak = “Walaupun nasihat itu keras dengarkan dulu, resapi dulu.”

Nang sakilan jadi sahasta, sahasta jadi sadapa = “Kabar yang sepele saja menjadi berkepanjangan karena ulah mulut ke mulut.”

Ngalih mambuang batu ka palatar = “Orang susah bisa diberi nasihat. Bandel. Selalu berbuat yang tidak baik.”

Ngalih marasuk pandir = “Menghadapi orang yang susah diwaba berbicara atau berdiskusi.”

Nyamanai bapandir muntung kada bakuring = “Enak saja berbicara kalau mulutnya tidak punya koreng”

Paaliran disambar buhaya = “Harta polisi dicuri maling.Orang yang terpandang di kampung hartanya dicuri maling.”

Pahabisan burung babunyi = “Tempatnya sangat jauh. Jauh sekali.”

Pamali duduk di watun = “Pantangan duduk di ujung lantai rumah karena bila sudah tua sering dimarahi mertua.”

Pamali duduk di muhara lawang wayah magrib = “Peringatan pada anak remaja putri agar jangan duduk di muka rumah waktu magrib karena sulit mendapat suami.”

Panas – panas tahi ayam = “Pekerjaan semula aktif tetapi lama kelamaan jadi tak aktif lagi. Semula bersemangat tetapi akhirnya menurun.”

Sakurang – kurang buhaya banyu nang malamasakan = “Hati – hati pada sesuatu yang kedua – duanya mencelakakan, membuat modarat.”

Sapuluh Kali batang batindih balungka jua nang linyaknya = “Biar berganti pejabat namun rakyat selalu saja mendapat kesusahan, miskin, melarat.”

Satu karja dua gawi = “Sekaligus dua pekerjaan yang dikerjakan, kedua – duanya berhasil.”

Siang bapanas malam baambun = “Orang yang rajin berkerja untuk keperluan hidupnya.”

Siapa nang manabuk luang inya saurang nang tabarusuk = “Orang berbuat tidak baik akan dia sendiri menanggung akibatnya.”

Sudah banyak makan uyah = “Biasanya pada orang yang tua usianya banyak pengalaman hidup.”

Sudah tamulai basah = “Sudah terlanjur dikendaki harus diteruskan.”

Susur pinggir tapih = “Intropeksi pada diri sendiri.”

Tabang nani rabah kanatu tabang natu rabah ka nani = “Orang yang banyak bicara namun kerjanya sedikit sehingga tak terselesaikan juga.”

Tabuati jukung miris = “Terikuti orang atau perkumpulan yang bermasalah.”

Takacak bara api = “Terpegang sesuatu yang sulit.”

Tahadapi nasi tambah = “Berhadapan dengan banyak pekerjaan.”

Talangkahi dangsanak tuha = “Memutuskan perkara sendiri, seharusnya masih ada saudara yang lebih tua.”

Talalu baharap jadi tatiharap = “Mengharapkan pada seseorang tetapi harapan itu nihil.”

Talalu pilih tapilih bangkung = “Terlalu pilih tak tahunya terpilih yang buruk atau rusak.”

Tali salawar tajarat mati = “Orang yang kehabisan pikir untuk menyelesaikan pekerjaan, akhirnya mencari jalan lain.”

Tamakan pangalih kawan = “Orang yang ikut bagian atau keuntungan padahal dia tidak ikut bekerja.”

Taranjah garubak bagana = “Ketidakhatihatian akhirnya celaka sendiri.”

Tungau di subarang kalihatan gajah di dahi talindung = “Hanya melihat keburukan orang lain, keburukan sendiri tidak dilihat.”

Umpat di batang timbul = “Tidak ada pendirian. Yang penting asal menguntungkan diri sendiri.”

Upung mamadahi mayang = “Orang yang pintar menasihati, padahal dia sendiri penuh kekurangan.”

Wani manimbai wani manajuni = “Berani berbuat berani bertanggung jawab.”

Waja sampai kaputing = “Semangat yang besar. Pekerjaaan dari awal sampai akhir penuh semangat.Tidak patah di tengah jalan. Tidak mengenal menyerah. Pantang mundur.”

Warik tajun kakacang = “Orang yang baru berada di suatu tempat menjadi ramai atau gaduh.”

Artikel di cari :