Qoutes kutipan kata bijak romantis sujiwo tejo 2016

Sunday, August 28th 2016. | Kata mutiara
Gambar kata-kata sujiwo tejo

Gambar kata-kata sujiwo tejo

Kata kata cinta romantis sujiwo tejo – Sujiwo Tejo, mungkin saja telah banyak yang tahu mengenai tokoh yang satu ini. Beliau di kenal sebagai dalang, penyanyi, aktor, penulis buku, serta ada banyak lagi ketrampilan atau profesi yang beliau tekuni. Seringkali dalam pementasan wayang beliau keluar dari pakem, namun masih tetap saja pesan yang tersampaikan demikian dalam beberapa buku sudah beliau tulis, dan satu diantaranya diisi beberapa kutipan kalimat bijak dan indah.

Masuk dekade ke-2 di era 21, nama Sujiwo Tejo semakin tenar di telinga serta mata anak-anak muda. Mbah Tejo, demikian sapaan akrabnya, memang telah menekuni dunia seni serta budaya mulai sejak th. 1980-an. Tetapi, dianya betul-betul melambung pada satu tahun lebih ke belakang, terutama waktu Twitter tengah naik daun.

Sebagian karyanya berbentuk buku sukses menarik perhatian kaum-kamu muda. Berisi juga begitu merepresentasikan cerita anak muda, terlebih masalah cinta, serta cukup gampang untuk dikonsumsi kelompok muda. Berkatnya, bukan hanya di ajak tahu lebih dalam hal cinta dari pojok pandang nyeleneh, namun juga, banyak anak muda yang jadi mengetahui lebih dalam sebagian tokoh wayang.

Kumpulan kata muutiara sujiwo tejo

“Kita ini kuda, Kekasih. Ekornya di rambutmu yang sorgawi. Ringkiknya pada ubun2 puncak malamku”
“Maka siluetkan tubuhmu berlatar senja, karena tak sanggup kulihat airmatamu, Kekasih …”
“Tahukah kau manusia paling tak berperasaan di muka bumi? Dia yg jauh dr kekasih saat hujan tp tak ia tulis satupun puisi-reminder”
“Knp aku suka senja? Krn negeri ini kebanyakan pagi, kekurangan senja, kebanyakan gairah, kurang perenungan — reminder”
“Kekasih, kupanggili kamu di padang savana senja itu, kuteriakkan, agar namamu lebih luas dari kesepianku”
“Ooo…Kekasih, kesedihan ini ternyata lebih menyedihkan dari ranggas cemara Desember …”
“Ketika tak ketika tak, kata-kata tak kita ketikkan tak kita titikkan: Kata-kata ketakutan …”
“Semesta semesranya, s’raya bertabur sapa, s’raya bertabur suka, serayakan nestapa …”
“Kadang dangkal kadang janggal, jengkal2 jelajah kaki kaki kami kakikan, dekat degub,detak denyut,debar desir…di nadiku”
“Rahwana: Tuhan, jika cintaku pada Sinta terlarang, kenapa Kau bangun megah perasaan ini dalam sukmaku?”
“Tak ada lagi airmata yang dapat kau timba, Kekasih…karena sungguh rinduku padamu kini telah menyumur tanpa dasar ..”
“Kekasih, bagaimana dapat kita satukan tawa sebelum kamu adalah bagian yang sah dari tangisku …”
“Jangan lebih lama lagi kau pandangi senja dan camar2, Kekasih, karena kemanapun berpaling kau akan tetap melihat airmataku ”
“Selalu masih terngiang di langit kamarku, kata2mu, Kekasih, bahwa dalam tawakulah terkandung airmata yg paling bening”
“Ketika itu Bisma, jiwa besar pada sekeping kaca, pada setiap saat engkau berkaca …Gugur ..”
“Kalau t’lah lelah dan kau terlampau berkilauan luka, kupangku, kau kan kupangku,” Dewi Amba ke Bisma ..”
“Usai usiamu kasihku t’lah usai, t’lah usai perang, t’lah usai senang, usai semesta rasa, semesta duka lara ”
“Adegan dlm Baratayuda..Pandawa + Kurawa tertunduk mengerumuninya..ada arwah kekasihnya Dewi Amba menunggu”
“Sungguh nafas saksofon ini kangenku padamu, kusampaikan via angin gunung, kuangankan angin belum sirna ..”
“Membawa rinduku padamu, Kekasih, suatu saat angin ‘kan sampai, sangat sepoi mengusap tangismu …”
“Kekasih, aku menamaimu pohon sukma, di taman sukma, angin dan gerimis sukmaku padamu…hmm..senyummu…”
“Bukan gemericik pancuran di sendang, Kekasih, modyar rinduku padamu airterjun tak bersuara …”
“Butir butir telor asin peluhku, pahit getir gandeng tanganmu, asam bergaram riwayat kita ..”
“Bulan terbelah bukit. Di balik bukit, sedang kuterka debur ombak itu menyuarakan kesepianku, Kekasih”
“Kekasih, hanya gerai rambutmu yang kubiarkan menjadi tirai dariku ke langit senja …”
“Bendera paling membangkitkan adalah kibar rambutmu di atas bukit, yang bersedekap menantiku sepanjang musim, Kekasih ..”
“Di tunas itu, Kekasih, tangismu mengembun terusap fajar, angan2 meremas rinduku ke hutan rasa …”
“Ada guguran sayap capung pada tiap jejak kakimu di laut pasir, Kekasih, sampai tak kuasa lagi aku terbang menggapaimu ..”
“Ini bukan bau tanah biasa di awal hujan. Ini bau jejak dudukmu di tanah basah oleh tangisku yang pertama, Kekasih …”
“Keganjilan ini, Kekasih, aneh sekali..Aneh sekali bilangan ganjil. Dibilang genap tak kau tangisi. Diganjal tawa masih kuburan ..”
“Pohon-pohon sudah pulang ke perbukitan, Kekasih, menjadi siluet berlatar bulan …menunggu senandungmu ..”
“Lagipula kemana lagi pulangku malam ini, Kekasih, kalau tak menjadi atap bagi tidurmu yang tersenyum ..”
“Tinggimu rendah, besarmu kecil,” tandas Arjuna kepada setiap rintangan, Kekasih …”
“Engkau pun tahu, Kekasih, tak lebih tabah dari Sinta yg ditawan 12 tahun di Arga Soka, tapi selama itu pula aku menunggumu ..”
“Tak bisa kukenang rembulan gerimis di lereng Merapi itu, Kekasih, tanpa kukenang airmatamu melereng pipiku ..”
“Tatapanmu tajam, Kekasih, menikam ribuan penyair di ragaku, darahnya ke kaki langit, garis nasibku padamu ..”
“Kekasih, akulah mata air dari airmatamu kelak setelah kau rindu muasal sunyi …”
“Dariku ke ranjangmu, Kekasih, membujur suatu nasib, yang menggaris, dan menggores …”
“Kupasang naik musik ini, Kekasih, krn tak setiap purnama dapat kudengar lenguhmu yang bergelombang ..”
“Aku bukan tak kangen, Kekasih, tapi telah lama rasa itu kutenggelamkan di laut airmataku agar lekas kau berlayar menujuku ..”
“Hening pantai ini bagai keningmu, Kekasih, waktu ombak dan camar tak bersuara, sesenyap lukisan pasir tentang bibirku ..”
“Tikar pandan terwangi adalah anyam-anyaman duka citamu, Kekasih, gelar dan golekkan tubuhmu di sana, abadi ..”
“Kekasih, batu karang yg kau hempas gelombangmu saban hari itu bukan pertapa. Itulah aku yg kau tampik tapi tak sirna ..”
“Sesiapa yang mention aku sekarang, kalian sudah terperangkap di dalam waiting room bersama sepiku …”
“Aku cahaya yang bergidik dari neon gunung, Kekasih, jika rindumu rintik di dalam kabut ..”
“Api di senjaku abad ini samar kobarnya, Kekasih, apa ia menggeliat dari pembakaran Sinta atau kobar dari amuk Hanuman ..”
“Engkau kopi puncak malamku, Kekasih, pahit dan kelam tanpa kusedu ..”
“Yg beragam tak cuma payudara, Kekasih, aku pun bermacam aku. Ada aku di dalam aku yang belum kenal siapa aku ..”
“Bagaimana dapat kusebut ini setubuh, Kekasih, sebelum kau rancu mana keningku dan mana keningmu ..”
“Kekasih, anak rambut keningmu yang benama sinom itu tak pernah tanggal dari almanak kangenku ke sukmamu …”
“Kekasih, ciumanmu senyap dan tampak terlatih, apa kamu serdadu apa kamu polisi? Mataku buta disebabkan cinta …”
“Kali ini tak punya hulu dan hilir, Kekasih, seperti suatu kali di musim kita …”
“Kekasih, pls siluetkan tubuh dan rambutmu di hadapan senja, agar tak dapat kulihat tangis di matamu …”
“Malam ini masih mendaki, Kekasih, ke puncak perjumpaan nafas, ketika tangis dan tawa tiada ke dalam desah ..”
“Mengenalmu adalah kebangkitan dalam hidupku, Kekasih, meski mengenangmu selalu membuatku bersedih .. #KidungKekasih —reminder”
“Menikah soal keberuntungan, tp mencintai soal martabat, Rahwana tentang Dewi Sinta …”
“Kekasih, cincinku kolong langit, emas kawin dari semesta…debur laut saksinya..Malam pertama di batu karang ..”
“Gerimis dimana pun sama, Kekasih, mereka bertubi-tubi seperti kenanganku akan tangismu …”
“Telah kau sihir aku, Kekasih, dengan kepak sayap kelelawar pada kedua alismu, dan keningmu yang merembulan ..Mati aku …”
“Semua orang menamaimu kembang, aku memanggilmu bunga. Demokrasi ternyata sesederhana itu, Kekasih…”
“Laut mengarang batu, debar berdebur tak menghempasnya, Kekasih, di sana tegak abadi rinduku padamu …”
“Lebih sunyi dari kepak sayap capung di tanah rantau, Kekasih, rinduku padamu mengembara ke bintang-bintang …”
“Laut tanpa langit. Cakrawala tak berjelang fajar dan surut senja. Di balik itu kuarungi wajahmu, Kekasih …”
“Siang ini laksana api yang unggun di hatimu, Kekasih, kala tangismu membilas takutku pada malam buta aksara: CINTA”
“Pesawat ini cuma akan menerbangkan raga, Kekasih, senyumku masih rekah bunga di pekaranganmu ..”
“Luka ini bukan tentang darah, Kekasih, tetapi segenap luka luarmu kini telah menjadi luka dalam yang sunyi …”
“Dan batu. Dan karang. Bukan lagi tulisan kaum pengarang. Engkau nyata, Kekasih, melaut di gelombang galauku …”
“Pualam yang terbit di keningmu masih sedingin nisan, Kekasih. Bahkan cintaku pun tak sanggup menghidupkan kembali tangismu”
“Mawar adalah seluruh cintaku pada warna darah yang tetes dari tarungmu membekuk rindu, Kekasih …”
“Kekasih, merindumu itu menyaksikan detik yang ngidam mengandung tahun …”
“Datangmu tepat kutelentang berbantal tawa, Kekasih, langit lalu melumatku dalam ciumanmu sebelum gerimis tak bersuara..”
“Tersungkur aku di lembah suaramu, Kekasih, ngilu yang kau dendangkan bersimbah tawa itu lumuran tangis ..”
“Pernah kudepak enyah kenangku padamu, tak padam-padam malah benderang. Yang lalu, Kekasih, ternyata yang kini denyut padaku ..”
“itu gelayutan antara aku dan engkau, Kekasih, sehingga terpilin seutas nasib”
“Selamat pagi kepada seluruh kenangan tentang pagi hari, Kekasih…”
“Cahayakah, kegelapankah, yang merupa wajahmu, Kekasih. Kau tak menjawab, hanya membiarkan terang dan bayang mengukir parasmu …”
“Cinta bergidik di banjir kota, Kekasih, saat samar padamu mana ruang bersalin mana yang tanah makam..”
“Di pemakaman berkalang senja kau tunduki nisan seakan aku yang telah tiada, Kekasih, walau yang mati itu baru nyaliku ..”
“Kekasih: Kau bangun dua jalanku menujumu: Via belukar dugem atau via sunyi jalan setapak. Kupilih jalan terabas di rimba rindu”
“Kalau t’lah lelah dan Kau terlampau berkilauan luka….kupangku, Kau kan kupangku, Kekasih ..”
“Malam menuai pagi di sawah ladang di gunung gunung, di tubuhmu, Kekasih, menunaikan malam ..”
“Jika pd kokok ayam pertama esok belum rampung kubangun cintaku pdmu, Kekasih, berarti cintaku memang tak laut yang kenal tepi”
“Yg terhalang bukit2 tengah malam itu mungkin rintihanmu mungkin bukan, Kekasih, tp jelas ratap perempuan sunyi sendiri di sorga”
“Kekasih, rasaku padamu rasaku rasa tertikam rasa bergunduk makam di tanah rasa …”
“Barangkali tak kau sadari, Kekasih, di berangkal dan puing2 ini kusimpan rata helai rambutmu yang dulu gugur bareng rembulan”
“Kekasih, aku larut dalam perjalanan hujan menimpa talas, asma tameng rupa daunmu. Pertempuran ini basah tak sampai, Ooh …”
“Kala cinta menyingkap malam, Kekasih, kusimak betismu meniti waktu, jalan berlulur peluh menujuku dalam dirimu ..”
“Mari masuk padaku, Kekasih, bersamaku yang sedang masuk padamu, bersama doa dan sedap malam ..”
“Ada lolong serigala yang nyeri tak terkira, Kekasih, ketika siluet wajahku mendongak berlatar bulan, latar parasmu ..”
“Aku tak katak dalam tempurung, Kekasih, aku kata yang kelu kala kau murung menganyam nasib ..”
“Ini bukan sajak yang sejuk, Kekasih, aku lendir bara memburu putri salju di liang sekam, tak redup mati …”
“Rambutmu menggurita di badanku sekujur, Kekasih, gulita menyergapku perlahan sampai cahaya malam pertama ..”
“Aku buah kemaraumu, Kekasih. Hujanmu membilas buahku pun masih padamu, Kekasih. Berakar tumbuh di atas musim bukanlah cintaku ..”
“Ciumanku buas tanpa pawang. Hujan menjebol gawangmu dalam kepungan kembang setaman. Sesunyi itukah hasratmu, Kekasih?”
“Gema namamu menghijau di kebun teh, Kekasih, halimun bahkan tak kuasa melunturkanmu. Tubuhku menggigil, membiru sekujur gunung”
“Kujengkali suaramu ternyata desir pantai tepi waktu, Kekasih, kuhampiri lambaianmu ternyata nyiur pulau tak berpeta, Ooo…”
“Tahun-tahunku berkibar panji dari berbagai penjuru, berkerumun di lapang hatimu, Kekasih, hamparan detik tanpa detak jam ..”
“Rinduku tak genap luka, Kekasih, belum gemilang berdarah darah …Nantikan tiba kucari kamu di perburuan yang remang remang ..”
“Garis nasibku menggores tangan, darahku cucur menggelas anggur, Kekasih, teguk rasaku, nafasku teguk …”
“Terjangkan kau padaku, Kekasih, ke ulu hati, ke dinding dinding dan dendam dendam, agar koyak aku merintis cinta …”
“Mengembara mengumbar umur mengembara, mengobar rasa, mengaburkan rindu … Kekasih ..”
“sedang dikucur jeruk nipis pun mataku tak menepis masih pendar tawamu, Kekasih. Tak kunjung perih kenangku padamu”
“Suatu ketika, Kekasih, di tembokmu yang anggun dan angkuh, kupaku plakat penantangku bagi pedang manapun yang meminangmu”
“Pada telaga sajakmu tak kulihat riak, Kekasih, tapi sukmaku serasa kertas diombang-ambing ombak dengan tinta memudar”
“Kekasih, payungmu jingga caping gembala. Kubangkan kerbauku di kabung lakonmu, biar kedunguan ini menyangga seruling isak ratapmu”
“Kau pukul mundur pasukan cintaku ke balik bukit, Kekasih, tp tak kuasa kau halau pekik yg kini nukik ke ubun2mu: gema cintaku”
“Belum siuman dari ciumanmu yang langka, telah kau langkahkan pula jalan hidupmu di kapar pasrahku, Kekasih…”
“Cinta ternyata penjara dgn jeruji kasih sayang, maka kau kerap menangis tanpa merasa dibui …Kekasih …”
“Sangat gampang beres-beres pindah kos-kosan, Kekasih, yang susah itu membersihkan kenangannya…”
“Tamparlah aku, Kekasih, tumpah ruahkanlah amarah padaku, ketimbang diammu anggun namun berkicauan di twitter tentang diriku …”
“Liurku lahar digiur lereng, Kekasih, gunung malammu liar kucecap seolah kelak tak balik fajar..O deru dan nafas alangkah fana”
“Sial, Kekasih, jati-jati kau jebak aku dalam cinta tak lekang kemana lapuk …”
“Yang lalu belum belulang, Kekasih, belatung pun belum berlalu. Mendiang cintaku lahir kembali ..”
“Orang2 menggotong mawar berkafan ke sandingmu, Kekasih, kumandangnya sejuta kumbang mengorbit sarang. Jangan pura2 tak hirau”
“Menggali kubur tak segila menggali dirimu, Kekasih, kian kukeduk kian kaukudap aku telanjang menelan bumi ..”
“Bulan tak berangin. Di tanah makam kupungut entah kamboja entah namamu. Jika bunga di mana pohon jika nama di mana kamu, Kekasih”
“Lalu bulan berasap, Kekasih. Nyenyak kita dalam keranda sebelum peronda terhenyak cinta, sebelum asal”
“Sibuk sekali waktu, Kekasih.Tadi kulihat kamu menangisiku di bangku pemakaman. Sekarang ketawa sudah kita barengan di dalam kubur”
“Jelang kutanya belah jiwanya, jaelangkung menjulang nulis namamu. Tulus cemburukah aku, Kekasih, ke arwah sendiri?”
“Bulan tak berangin. Di tanah makam kupungut entah kamboja entah namamu. Jika bunga di mana pohon jika nama di mana kamu, Kekasih”
“Sibuk sekali waktu, Kekasih.Tadi kulihat kamu menangisiku di bangku pemakaman. Sekarang ketawa sudah kita barengan di dalam kubur ”
“Sebaik2 duduk adalah bertopang cinta, Kekasihku, belah daguku …”
“Menyanjung janji … menyangga matahari … menanggung suka dan duka … menjunjungmu, Kekasih”
“Bagi yang kalah nasib janur melengkung jadi melengking, Kekasih, jerit tertahan di tenda nikahmu ..”
“Tak gentar aku digendam gersang tanah ini, Kekasih, tapi tak ketika tandus senyummu tandas padaku seluas musim …”
“Tuhan memang tergantung wasangka. Begitu kusangka Tuhan Maha Asyik, yg mereka sangka musibah padaku cumalah guyonmu padaku,Kekasih”
“Banyak yang keki penyamaran, Kekasih, sembari lupa bahwa rasa kasihan sejatinya sombong yang menyamar … ”
“Kangenku mengolah kangen, mengelola ngilu menjadi senandung, Kekasih ..”
“Dengarlah sapi-sapi melayang lenguhnya, Kekasih. Walau tak panjang rerumput sana, tak sependek-pendek BBMmu ..”
“Kekasih, ini kaca tembus lukaku tak tembus pandang ke tusuk rasa …”
“Kekasih, kamu adalah caraku menghadirkan taman di belukar …”
“Kekasih, ternyata sudah lama aku sok tahu bahwa kamu tak mengenang ciumanku …”
“Ringkih bungkukku depan tembokmu, Kekasih, dinding tak berdetak jam dari rangkaku ke tangismu …”
“Selempangkan lukaku di gaun senjamu, Kekasih, selendang pelangi bersimpang siuran kalong ke hujan …”
“Dan daun salam gugur darimu, Kekasih, tanpa ucapan tanpa cap bibir, tiada tanya sebabku sepi …”

Artikel di cari :