Kutipan kata mutiara inspiratif pramoedya ananta toer

Tuesday, August 30th 2016. | Kata mutiara
Gambar kata bijak pramoedya ananta toer

Gambar kata bijak pramoedya ananta toer

Quotes pramodya ananta toer – Kumpulan kata mutiara cinta pramoedya ananta toer – Mengenal Seseorang itu tidak selalu dan harus dengan berjabat tangan, bertatap muka atau jalan bersama, bisa jadi kita akan langsung merasa “dekat” ketika orang yang belum kenal itu sudah kita kenali dari beberapa tulisan dan cerita yang dia buat. Artinya dengan tulisan tersebut kita merasakan dan meng-iyakan sebuah dimensi di alam perasaan, halnya sama dengan isi pikiran dan perasaan yang di buat oleh penulis tersebut,

Pramoedya Ananta Toer, beliau langsung membuat banyak orang terpukau dengan karangan dan cara menterjemahkan pikiran kedalam tulisan. Beberapa kutipannya pun menjadi motivasi atau bisa di bilang wejangan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti berikut :

Kata bijak favorit pramoedya ananta toer

“Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan.”
— Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia)

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
— Pramoedya Ananta Toer

“Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?”
— Pramoedya Ananta Toer

“Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.”
— Pramoedya Ananta Toer

“How simple life is. It’s as simple as this: you’re hungry and you eat, you’re full and you sit. Between eating and shitting, that’s where human life is found. – (Houseboy + Maid, in Tales from Djakarta)”
— Pramoedya Ananta Toer (Tales From Djakarta: Caricatures of Circumstances and their Human Beings (Studies on Southeast Asia))

“seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”
— Pramoedya Ananta Toer (This Earth of Mankind)

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Mama, 84)”
— Pramoedya Ananta Toer (Child of All Nations)

“Kalau mati, dengan berani; kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.”
— Pramoedya Ananta Toer

“Menulis adalah sebuah keberanian…”
— Pramoedya Ananta Toer

“Dan alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak di hadapan orang lain” such — Pramoedya Ananta Toer

“Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran mudah, dan semua akan jadi mudah; jangan takut pada pelajaran apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua”
— Pramoedya Ananta Toer

“Dahulu dia selalu katakan apa yang dia pikirkan, tangiskan, apa yang ditanggungkan, teriakan ria kesukaan di dalam hati remaja. Kini dia harus diam- tak ada kuping sudi suaranya.”
— Pramoedya Ananta Toer

“Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain.”
— Pramoedya Ananta Toer (Jalan Raya Pos, Jalan Daendels)

“Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri
(Jejak Langkah, h. 113)”
— Pramoedya Ananta Toer

“Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
— Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia)

“Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.
(Anak Semua Bangsa, h. 199)”
— Pramoedya Ananta Toer

“Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri”
— Pramoedya Ananta Toer

“Barangsiapa muncul di atas masyarakatnya, dia akan selalu menerima tuntutan dari masyarakatnya-masyarakat yang menaikkannya, atau yang membiarkannya naik…. Pohon tinggi dapat banyak angin? Kalau Tuan segan menerima banyak angin, jangan jadi pohon tinggi”
— Pramoedya Ananta Toer (Child of All Nations)

“Such was the love of this grandson for his grandmother that two years after the death of his mother, when she herself fell gravely ill, he vowed to her that someday he would try to tell the world her life story.

‘But why?’ she asked humbly. ‘I’m no one, just a girl from the coast’

‘But you are everyone, Grandma,’ the young Pramoedya told her. ‘You are all the people who have ever had to fight to make this life their own.”
— Pramoedya Ananta Toer (Gadis Pantai)

“Menulislah sedari SD, apa pun yang ditulis sedari SD pasti jadi.”
— Pramoedya Ananta Toer

“Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa
kriminal, biarpun dia sarjana”
— Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia)

“Kehidupan lebih nyata daripada pendapat siapa pun tentang kenyataan “
(Anak Semua Bangsa, h. 199)”
— Pramoedya Ananta Toer

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah
(Rumah Kaca, h. 352)”
— Pramoedya Ananta Toer

“Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya
(Rumah Kaca, h. 409)”
— Pramoedya Ananta Toer

“Kau terpelajar, cobalah bersetia pada kata hati.”
— Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia)

“At the beginning of all growth, everything imitates.”
— Pramoedya Ananta Toer (This Earth of Mankind)

“Kau Pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, Pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus, harus bicara pada mereka , dengan bahasa yang mereka tahu”
— Pramoedya Ananta Toer (Child of All Nations)

“Saya selalu percaya–dan ini lebih merupakan sesuatu yang mistis–bahwa hari esok akan lebih baik dari hari sekarang.”
— Pramoedya Ananta Toer

“Barang siapa tidak tahu bersetia pada azas, dia terbuka terhadap segala kejahatan: dijahati atau menjahati. (Mama, 4)”
— Pramoedya Ananta Toer (Child of All Nations)

“Setiap pengalaman yang tidak dinilai baik oleh dirinya sendiri ataupun orang lain akan tinggal menjadi sesobek kertas dari buku hidup yang tidak punya makna. Padahal setiap pengalaman tak lain daripada fondasi kehidupan”
— Pramoedya Ananta Toer (Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2)

“Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuwil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya.”
— Pramoedya Ananta Toer (Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2)

“setiap pejuang bisa kalah dan terus-menerus kalah tanpa kemenangan, dan kekalahan itulah gurunya yang terlalu mahal dibayarnya. Tetapi biarpun kalah, selama seseorang itu bisa dinamai pejuang dia tidak akan menyerah. Bahasa Indonesia cukup kaya untuk membedakan kalah daripada menyerah
(Prahara Budaya, h. 187)”
— Pramoedya Ananta Toer

“Sebagai pengarang saya masih lebih percaya kepada kekuatan kata daripada kekuatan peluru yang gaungnya hanya akan berlangsung sekian bagian dari menit, bahkan detik.”
— Pramoedya Ananta Toer

“Pernah kudengar orang kampung bilang : sebesar-besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya
(Anak Semua Bangsa, h. 98)”
— Pramoedya Ananta Toer

“Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. Kan begitu Tuan Jenderal?
(Jejak Langkah, h. 32)
” — Pramoedya Ananta Toer

“Tak pernah ada perang untuk perang. Ada banyak bangsa yang berperang bukan hendak keluar sebagai pemenang. Mereka turun ke medan perang dan berguguran berkeping-keping seperti bangsa Aceh sekarang ini…ada sesuatu yang dibela, sesuatu yang lebih berharga daripada hanya mati, hidup atau kalah-menang.”
— Pramoedya Ananta Toer

“Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.”
— Pramoedya Ananta Toer

“Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana;biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput
(Bumi Manusia, h. 119)”
— Pramoedya Ananta Toer

“Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas
(Bumi Manusia, h. 138)”
— Pramoedya Ananta Toer

“suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika sana, tak pernah duduk di bangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan
(Bumi Manusia, h. 233)”
— Pramoedya Ananta Toer

“Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia
(Rumah Kaca, h. 436)”
— Pramoedya Ananta Toer

“Seorang terpelajar harus berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan,”
— Pramoedya Ananta Toer

“Seorang terpelajar itu harus adil, sejak dalam pikiran! [Bumi Manusia]”
— Pramoedya Ananta Toer

“Jangan kau mudah terpesona oleh nama-nama. Kan kau sendiri pernah bercerita padaku: nenek moyang kita menggunakan nama yang hebat-hebat, dan dengannya ingin mengesani dunia dengan kehebatannya—kehebatan dalam kekosongan. Eropa tidak berhebat-hebat dengan nama, dia berhebat-hebat dengan ilmu pengetahuannya. Tapi si penipu tetap penipu, si pembohong tetap pembohong dengan ilmu dan pengetahuannya.
(Anak Semua Bangsa, h. 77)”
— Pramoedya Ananta Toer

“Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri
(Anak Semua Bangsa, h. 119)”
— Pramoedya Ananta Toer

“Setiap tulisan merupakan dunia tersendiri, yang terapung-apung antara dunia kenyataan dan dunia impian
(Rumah Kaca, h. 138)”
— Pramoedya Ananta Toer

“Apabila sebagai pengarang harus kutangguhkan begitu banyak ketidakadilan di tanahair sendiri, penganiayaan lahir-batin, perampasan kebebasan dari penghidupan, hak dan milik, penghinaan dan tuduhan, bahkan juga perampasan hak untuk membela diri melalui mass-media mau pun pengadilan, aku hanya bisa mengangguk mengerti. Sayang sekali kekuasaan tak bisa merampas harga diri, kebanggaan diri, dan segala sesuatu yang hidup dalam batin siapa pun.”
— Pramoedya Ananta Toer

“Kau tak kenal bangsamu sendiri
(Anak Semua Bangsa, h. 55)”
— Pramoedya Ananta Toer

“A mother knows what her child’s gone through, even if she didn’t see it herself.”
— Pramoedya Ananta Toer (Gadis Pantai)

“Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai”
— Pramoedya Ananta Toer

Artikel di cari :