Contoh puisi untuk kakak panitia ospek mahasiswa

Sunday, August 21st 2016. | Puisi
Ospek mahasiswa 2016

Ospek mahasiswa 2016

Puisi terima kasih untuk panitia ospek – Ospek, singkatan dari orientasi dan pengenalan lingkungan kampus, adalah suatu acara yang diadakan oleh pihak kampus untuk menyambut mahasiswa baru. Para mahasiswa baru tersebut dapat dikatakan sebagai anggota baru dari keluarga besar sivitas akademika fakultas. Karenanya, ospek boleh dikata sebagai suatu momen untuk menyambut sekaligus memperkenalkan lingkungan yang relatif baru kepada mahasiswa baru.

Sesuai namanya, ospek haruslah merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengenalkan dan mengorientasikan mahasiswa baru kepada lingkungan dan kehidupan kampus. Maka segala kegiatan yang akan dilakukan saat ospek harus bertujuan dan memberikan manfaat positif kepada mahasiswa baru. Jangan sampai mereka melakukan sesuatu yang justru tidak ada manfaatnya bagi diri mereka.

Kumpulan puisi tentang ospek mahasiswa

Puisi cinta untuk kakak tingkat

Hari ini kuinjakan langkah kecilku kesuatu tempat asing
Berharap akan mengerungi hari-hari ceriaku disini
Meski tanpa ada seseorang yang mengenalku
Kulapangkan hati terus menuju dunia baru.

Disana kutemukan senyummu yang merekah bagai bunga
Membuat hatiku yang sedang dilanda kemarau
Sekejap menjadi seperti musim semi
Air hujan seakan menyegarkan seluruh isi hatiku.

Tatap mata itu seperti anak panah yang tepat menusuk jantungku
Bahkan tanganku tak mampu untuk mematahkannya
Terus menancap disana, dan tak berkarat oleh waktu
Namun sama sekali ku tak terluka, bahkan ingin selalu menerima tatapan itu.

Ketika kau berbicara tegas, guntur dihatiku segera menggelegar
Saat kau diam termenung, angin sepoi-sepoi seakan berhembus dalam hatiku
Ketika kau tak memperhatikanku, salju segera turun mendinginkan hatiku
Dan saat kau memberi perhatian, Matahari ikut mencairkan bekunya hati dan menghangatkannya.

Senior, mungkin kau tak menyadarinya
Namun sejak pertama bertemu kudengar tutur katamu, senyummu, kebaikanku
Aku tertarik untuk terus memandangimu
Karena kau membawa musim dihatiku.

Puisi waktu opsek

salju
satu kata yang ku ungkapkan tentangmu
dingin… ya sedingin saljulah sikapmu
ya… teramat sangat dingin

yang ku lihat saat ini
sikap cuek mu
acuh tak acuh mu
seperti itulah yang nampak

dimataku perbedaan dengan kakak kelas yang lain sangatlah ketara
maybe… sikap saljumu itulah
jujur, aku ingin bisa lebih mengenalmu
sekedar mengobrol, bertukar cerita, atau apapun itu

ingin ku pecahkan tanya di otak ku
apakah dirimu seperti yang kusimpulkan?
seorang kakak kelas yang cuek
dingin.. acuh tak acuh..

tapi di balik semua itu
kagumku tersimpan dibenak
dengan segala kewibawaan mu
sebagai seorang kakak kelas
contoh dan teladan untuk adik-adikmu
membuatku sesaat melupakan saljumu itu

kakak…
aku tak ingin hanya sebatas mengenalmu beberapa hari ini
aku ingin bisa lebih mengenalmu

harapku, kau tak seperti yang kusimpulkan tentang saljumu
aku yakin kakak tidak seperti itu

kagumku padamu, juga pada sikap tegas dan seluruh kewibawaanmu kak

terimakasih telah membimbingku selama masa orientasi ini

Sajak ospek

Sekian tahun dari suatu era yang disebut reformasi,
aku berlari di lorong kampus sastra menuju aula,
terlambat hadir dalam ospek hari pertama.

“Sejarah telah membuktikan bahwa
kaum muda, mahasiswa, punya daya!”
Seorang lelaki bersuara cempreng berorasi di atas podium.
Kakak angkatan, mungkin dua atau tiga tahun di atasku.

Aku yang terlambat hadir tak kebagian kursi.
Hanya bisa mendengarnya dari dinding belakang,
berdiri di barisan kakak angkatan
yang tampangnya sengaja disangar-sangarkan.

“Senior kita telah menumbangkan sebuah orde!”
Teriaknya dengan bibir gemetaran.

Aku menebak-nebak apa lanjutan ucapannya.
Dan ternyata benar: kaderisasi demonstran.
“Apa kalian siap mengulang sejarah?” teriaknya.
“Siap!” semua mahasiswa baru menjawab serempak,
kecuali aku.

Si orator cempreng mengamatiku dari kejauhan.
“Hei, kau! Mengapa tak ikut menjawab?”
Aku pun tak menjawab tanyanya.
“Ah, banci! Tak berani teriak bagi ini negeri!” ejeknya.

Seseorang memberiku mikrofon,
mendesakku tuk segera menjawab.
Dan akhirnya aku menjawab juga
dengan kelembutan yang tak memudarkan wibawa:
“Aku datang untuk jadi sastrawan,
bukan sarjana sastra apalagi demonstran.
Dan aku yakin
sastrawan punya cara yang lebih anggun untuk mengkritik
ataupun memberontak.”

Semua terdiam.
Sesi berikutnya: makan-makan.

Cerita lama ospek

Titik biru panjang berlenggok naik turun kadang diam
Berjajar diatas hitam putih yang mulai bosan
Mengelus menunduk, menenggak juga menguap
Hanya satu berkicau ceria
Meratap yang disebut acuhkan empat orang tinggi duduk dibelakang meja

Setiap kaki menggeliat tak tentu mencari celah
Tulang merengkut disetiap sudut
Memang sedang berhembus dingin angin tempel didinding
Jadi hambar karena banyak kepala hitam kepanasan

Mungkin panas diluar berjalan lancar enak untuk kami
Berapa jam yang berdetik sama?
Kami pegal, kami tak sabar
Yang cantik jadi jelek, yang tampan jadi kusam
Dua jam putar untuk menunggu si ceria berkicau oleh tatap kosong kami

Artikel di cari :